BAB I
PENDAHULUAN
A. latar
belakang
Setiap
tahun sekitar setengah juta perempuan di dunia meninggal akibat komplikasi yang
berhubungan dengan kehamilan dan persalinan (WHO, 1996). Lebih dari separuhnya
berada di negara Asia.2
Penyebab utama terjadinya kematian ibu dapat di bagi 4 (empat) kelompok
yaitu langsung, terjadi tanpa dapat diduga sebelumnya, dan tidak diketahui
penyebabnya, penyebab langsung kematian ibu yang paling umum di Indonesia
adalah preeklampsia/eklampsia, perdarahan, dan infeksi.3 World
Health Organization (WHO) melaporkan pada tahun 2005 terdapat 536.000 wanita
hamil meninggal akibat hipertensi pada saat persalinan di seluruh dunia. Angka
Kematian Ibu (AKI) di Subsahara Afrika 270/100.000 kelahiran hidup, di Asia
Selatan 188/100.00 kelahiran hidup dan di Asia Tenggara 35/100.000.(World
Health Oorganization, 2010).1
Berdasarkan
laporan WHO pada tahun 2005, di Indonesia angka kematian ibu tergolong tinggi
yaitu 420/100.000 kelahiran hidup dibandingkan dengan negara-negara
ASEAN. AKI di Singapura
14/100 kelahiran hidup, di Malaysia 62/100.000 kelahiran hidup dan di Thailand
110/100.000 kelahiran hidup. Di Vietnam 150/100.000 kelahiran hidup, di
Filipina 230/100.000 kelahiran hidup dan Myanmar 380/100.000 kelahiran hidup. (World
Health Oganization, 2010). Angka Kematian Ibu merupakan indikator keberhasilan
pembangunan pada sektor kesehatan. AKI mengacu pada jumlah kematian ibu mulai
dari masa kehamilan, persalinan dan nifas. Menurut data Survei Demografi
Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2009, AKI di Indonesia 307/100.000 kelahiran hidup
dan tahun 2009, 228/100.000 kelahiran hidup. Penurunan AKI di Indonesia masih terlalu
lambat untuk mencapai target Tujuan pembangunan yaitu menurunkan angka kematian
ibu tiga per empat selama kehamilan dan persalinan. Rentang tahun 2003-2009
penurunan AKI di Indonesia, jauh dari target yang ingin dicapai pada tahun 2010
dan 2015 diperkirakan 125/100.000 kelahiran hidup dan 115/100.000 kelahiran
hidup1.
Berdasarkan
uraian di atas, maka penulis tertarik mengangkat makalah mengenai hipertensi
dalam kehamilan, preeklamsia, eklamsia dan syindrom hellp.
BAB II
TINJAUAN TEORI
HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN
A. Definisi
Hipertensi
dalam kehamilan (HDK) adalah hipertensi yang terjadi saat kehamilan berlangsung
dan biasanya pada bulan terakhir kehamilan (Junaidi, 2010). Terjadinya
hipertensi ini (≥140/90 mmHg) dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara
lain riwayat keluarga, stres, nutrisi, umur, paritas, aktivitas, dan eklamsia.1
B. klasifikasi
hipertensi
Hipertensi
dalam kehamilan saat ini dibedakan menurut The Working Group of Hypertensive
Disordes Complicating Pregnancy (2000) sebagai berikut :
1. hipertensi gestasional
yaitu terjadinya hipertensi ringan selama kehamilan pada ibu yang sebelumnya
normotensif, tanpa disertai proteinuria dan kelainan hasil laboratorium lain. Diagnosis
hipertensi gastosional yaitu :
a. Tekanan
darah ≥140/90 mmHg
b. Tidak
ada riwayat hipertensi sebelum hamil, tekanan darah normal di usia kehamilan
<12 minggu
c. Tidak
ada proteinuria (diperiksa dengan tes celup urin)
d. Dapat
disertai tanda dan gejala preeklampsia, seperti nyeri ulu hati dan
trombositopenia
e. Diagnosis
pasti ditegakkan pascapersalinan
Tatalaksana
umum hipertensi gastosional :
a. Pantau
tekanan darah, urin (untuk proteinuria), dan kondisi janin setiap minggu.
b. Jika
tekanan darah meningkat, tangani sebagai preeklampsia ringan.
c. Jika
kondisi janin memburuk atau terjadi pertumbuhan janin terhambat, rawat untuk
penilaian kesehatan janin.
d. Beri
tahu pasien dan keluarga tanda bahaya dan gejala preeklampsia dan eklampsia.
e. Jika
tekanan darah stabil, janin dapat dilahirkan secara normal.
f. Hipertensi kronik
adalah Hipertensi tanpa proteinuria yang timbul dari sebelum kehamilan dan
menetap setelah persalinan dengan diagnosis:
a. Tekanan
darah ≥140/90 mmHg
b.
Sudah ada riwayat hipertensi sebelum
hamil, atau diketahui adanya
c.
hipertensi pada usia kehamilan <20
minggu
d.
Tidak ada proteinuria (diperiksa dengan
tes celup urin)
e. Dapat
disertai keterlibatan organ lain, seperti mata, jantung, dan ginjal
Tatalaksana
umum hipertensi kronik :
a. Anjurkan
istirahat lebih banyak.
b. Pada
hipertensi kronik, penurunan tekanan darah ibu akan mengganggu perfusi serta
tidak ada bkti-bukti bahwa tekanan darah yang normal akan memperbaiki keadaan
janin dan ibu.
c. Jika
pasien sebelum hamil sudah mendapat obat antihipertensi, dan terkontrol dengan
baik, lanjutkan pengobatan tersebut
d. Jika
tekanan diastolik >110 mmHg atau tekanan sistolik >160 mmHg, berikan
antihipertensi
e. Jika
terdapat proteinuria atau tanda-tanda dan gejala lain, pikirkan superimposed
preeklampsia dan tangani seperti preeklampsia
f. Berikan
suplementasi kalsium1,5-2 g/hari dan aspirin 75 mg/hari mulai dari usia
kehamilan 20 minggu
g. Pantau
pertumbuhan dan kondisi janin.
h. Jika
tidak ada komplikasi, tunggu sampai aterm.
i.
Jika denyut jantung janin <100
kali/menit atau >180 kali/menit, tangani seperti gawat janin.
j.
Jika terdapat pertumbuhan janin terhambat,
pertimbangkan terminasi kehamilan.
PRE-EKLAMSIA
A. Definisi
Preeklampsi
adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan atau edema setelah umur
kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul
sebelum umur kehamilan 20 minggu pada penyakit trofoblas.3
B. Klasifikasi
1. Preeklamsia
ringan
Adalah Suatu sindroma
spesifik kehamilan dengan menurunnya perfusi organ yang berakhibat terjadinya
vasospasme pembuluh darah dan aktivasi endotel. (Prawirohardjo, 2009. 543).
Sedangkan menurut ilmu kebidanan praktis :61 Adalah timbulnya hipertensi
disertai proteinuria dan / atau edema setelah umur kehamilan 20 minggu atau
segera setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum umur kehamilan 20
minggu pada penyakit trofoblas. Gejala dan tanda preeklampsia ringan yaitu:3
a. Tekanan
darah sistolik 140 atau kenaikan 30 mmHg dengan interval pemeriksaan setiap 6
iam.
b. Tekanan
darah diastolik 90 atau kenaikan 15 mmHg dengan interval pemeriksaan setiap 6
jam.
c. Kenaikan
berat badan 1 kg atau lebih dalam seminggu.
d. Proteinuria
0,3 gr atau lebih dengan tingkat kualitatif plus 1 sampai 2 pada urin kateter
atau urin aliran pertengahan.3
2. Preeklampsia
berat
Adalah
suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya hipertensi 160/110
mmhg atau lebih disertai proteinuria dan atau edema pada kehamilan 20 minggu
atau lebih menurut ilmu kebidanan praktis.63. Sedangkan menurut Prawirohardjo (
2009. 544) adalah preeklampsia dengan tekanan darah sistolik > 160 mmHg dan
tekanan darah diastolic > 110 mmHg disertai proteinuria lebih 5 g/ 24 jam.
Gejala dan tanda preeklampsia berat yaitu :
a. Tekanan
darah 160/110 mmHg
b. Oliguria,
urin < 400 cc/24 jam.
c. Proteinuria
lebih dari 3 gr/liter.3
C. Etiologi
Penyebab preeklamsia
belum diketahui pasti. Namun demikian, penyakit ini lebih sering ditemukan pada
wanita hamil yang :
1. Terpajan
vili korialis pertama kali (primigravida atau primipaternitas)
2. Terpajan
vilikorialis berlebihan (hiperplasentosis), misalnya pada kehamilan kembar atau
mola hidatidosa
3. Mempunyai
dasar penyakit ginjal atau kardiovaskuler
4. Mempunyai
riwayat preeklamsia/eklamsia dalam keluarga.4
D. Gambaran
klinis pre-eklamsia
Gambaran
klinis mulai dengan kenaikan berat badan diikuti edema kaki atau tangan,
peningkatan tekanan darah dan terakhir terjadi proteinuria. Pada preeklamsia
ringan, gejala subjektif belum dijumpai, tetapi pada preeklamsia berat diikuti
keluhan subjectif berupa sakit kepala terutama daerah frontalis, rasa nyeri
didaerah epigastrikum, gangguan mata, pengelihatan menjadi kabur, terdapat mual
sampai muntah,gangguan pernapasan sampai sianosis, dan terjadi gangguan
kesadaran. Dengan pengeluaran proteinuria, keadaan penyakit semakin berat,
karena terjadi gangguan fungsi ginjal.5
E. Dasar
diagnosis pre-eklamsia
Kejadian
pre-eklamsia dan eklamsia sulit dicegah, tetapi diagnosis dini sangat
menentukan prognosis janin. Pengawasan hamil sangat penting karena preeklamsia
berat dan eklamsia merupakan penyebab kematian yang cukup tinggi, terutama
dinegara berkembang. Diagnosis ditetapkan dengan dua dari trias preeklamsia
yaitu kenaikan berat badan-edema, kenaikan tekanan darah, dan terdapat
proteinuria.5
Pre-eklamsia digolongkan ke dalam pre-eklamsia ringan dan berat
dengan tanda dan gejala sebagai berikut : peningkatan gejala dan tanda
preeklamsia berat memberikan petunjuk akan terjadi eklamsia, yang mempunyai
prognosis buruk dengan angka kematian maternal dan janin tinggi.5
F. Pencegahan
kejadian pre-eklamsia dan eklamsia
Untuk mencegah kejadian
pre-eklamsia dapat diberikan nasihat tentang :
1. Diet-makanan.
Makanan tinggi protein, tinggi karbohitrat, cukup vitamin dan rendah lemak,
kurangi garam apabila berat badan bertambah atau edema, makanan beroirentasi
pada empat sehat lima sempurna, dan untuk meningkatkan jumlah protein dengan
tambahan satu butir telur setiap hari.
2. Cukup
istirahat, istirahat yang cukup sesuai pertambahan usia kehamilan berarti
bekerja seperlunya dan disesuaikan dengan kemampuan. Lebih banyak duduk atau
berbaringkearah punggung janin sehingga aliran darah menuju plasenta tidak
mengalami gangguan.
3. Pengawasan
antenatal (hamil). Bila terjadi perubahan perasaan dan gerak janin dalam rahim
segera datang ketempat pemeriksaan. Keadaan yang memerlukan perhatian:
a. Uji
kemungkinan preeklamsia :
·
Pemeriksaan tekanan darah atau kenaikannya
·
Pemeriksaan tinggi fundus uteri
·
Pemeriksaan kenaikan berat badan atau
edema
·
Pemeriksaan protein urin
·
Jika mungkin dilakukan pemeriksaan
fungsi ginjal, fungsi hati, gambaran darah umum, dan pemeriksaan retina mata
b. Penialaian
kondisi janin dalam rahim
·
Pemantauan tinggi fundus uteri
·
Pemeriksaan janin (gerakan janin dalam
rahim, denyut jantung janin, pemantauan air ketuban)
·
Usulkan untuk melakukan pemeriksaan
ultrasonografi.5
G. Indikasi
perawatan aktif
1. Ibu
:
a. Kehamilan
> 37 minggu
b. Tanda
dan gejala impending eclampsia, seperti nyeri kepala hebat, pengelihatan kabur,
nyeri ulu hati, gelisah dan hiper-refleksia, gagal terapi konservatif,
peningkatan tekanan darah dalam 6 jam sejak terapi medisinal dimulai, dan gagal
perbaikan setelah 24 jam sejak terapi medisinal dimualai.4
2. Janin
: terjadi gawat janin dan PJT (pertumbuhan janin terhambat)
3. Laboratorik
: sindrom hellp (hemolysis, elevated liver enzyme, low platelet count)..4
H. Pengobatan
medisinal
1. Obat
anti kejang:
a. Terapi
pilihan pada preeklamsia adalah magnesium sulfat (MgSO4). Sebaiknya
MgSO4 diberikan terus menerus secara IV atau berkala secara IM.
Pemberian IV terus
menerus menggunakan infusin pump.
·
Dosis awal : 4 gram MgSO4 20% (20 cc) dilarutkan kedalam 100 cc cairan
Ringer Laktat atau Ringer Dextrose
selama 15-20 menit secara IV.
·
Dosis pemeliharaan : 10 gram MgSO4 20%
dalam 500 cc RL/RD dengan kecepatan 1-2 gram/jam
Pemberian
IM berkala :
·
Dosis awal : 4 gram MgSO4 20%
(20 cc) secara IV dengan kecepatan 1 gram/menit
·
Dosis pemeliharaan : 4 gram MgSO4
40% (10 cc) IM setiap 4 jam. Tambahkan 1 cc Lidokain 2% setiap pemberian IM
untuk mengurangi nyeri dan panas.
Syarat-syarat
pemberian MgSO4 :
·
Harus tersedia antidotum, yaitu kalsium
glukonas 10% (1 gram dalam 10 cc)
·
Frekuensi pernapasan ≥ 16x/menit
·
Produksi urin ≥ 30 cc/jam (≥0.5 cc/kg
berat badan/jam)
·
Refleks patella (+)
MgSO4
dihentikan pemberiannya bila:
·
Ada tanda-tanda intoksikasi
·
Setelah 24 jam pascasalin
·
Dalam 6 jam pascasalin terjadi perbaikan
(normotensif)
b. Diazepam
: dapat diberikan bila tidak tersedia MgSO4 sebagai obat pilihan.
Diazepam IV diberikan dengan dosis 10 mg
dan dapat diulangi setelah 6 jam.
2. Obat
antihipertensi : hanya diberikan bila tekanan darah sistolik > 180 mmHg
dan/atau diastolik >110 mmHg.
3. Lain-lain
:
a. Diuretikum
: tidak diberikan kecuali bila ada edema paru, gagal jantung kongesif atau
edema anasarka
b. Kardiotonika
: bila ada tanda-tanda payah jantung
c. Anti
piretik : bila ada demam
d. Antibiotik
: bila ada tanda-tanda infeksi
e. Anti
nyeri : bila penderita gelisah karena kesakitan.4
I. Pengelolaan
obstetrik
Pengelolaan preeklamsia
yang terbaik ialah mengakhiri kehamilan karena :
1. Penyebabnya
adalah kehamilan itu sendiri
2. Preeklamsia
akan membaik setelah persalinan
3. Mampu
mencegah kematian janin dan ibu
Namun, bila kehamilan belum matur dan
ibu serta janin masih baik, perawatan konservatif dapat dilakukan untuk
mempertahankan kehamilan sampai berumur 37 minggu.
Bila persyaratan perawatan konservatif
tidak terpenuhi, kehamilan sebaiknya segera diakhiri dengan induksi atau
augmentasi. Persalinan pervaginam diselesaikan dengan partus buatan. Bila ada
indikasi, seksio sesarea dapat dilakukan.4
EKLAMSIA
A. Definisi
Eklamsia adalah kejang yang dialami wanita hamil
dalam persalinan atau masa nifas yang disertai gejala-gejala preeklamsia
(hipertensi, edema dan proteinuria).4 menurut saat terjadinya,
eklamsia dapat dibedakan atas :
1. Eklamsia
antepartum : terjadi sebelum kehamilan
2. Eklamsia
intrapartum : terjadi sewaktu persalinan
3. Eklamsia
pascasalin : terjadi setelah persalinan. Eklamsia pascasalin dapat terjadi
segera (early postpartum, setelah 24 jam-7 hari pascasalin) atau lambat (late
postpartum, setelah 7 hari pascasalin selama masa nifas).
Serangan
kejang eklamsia dapat dibedakan kedalam 4 tingkat:
1. Tingkat
invasi (tingkat permulaan) : mata terpaku, kepala dipalingkan ke satu sisi,
muka memperlihatkan kejang-kejang halus. Tingkat ini berlangsung beberapa
detik.
2. Tingkat
kontraksi (tingkat kejang tonis) : seluruh badan kaku, kadang-kadang terjadi
epistotonus yang lamanya 15-20 detik.
3. Tingkat
konvulsi ( tingkat kejang klonis) : kejang hilang timbul, rahang membuka dan
menutup begitu pula mata, otot-otot muka dan otot badan berkontraksi dan
berelaksai berulang. Kejang sangat kuat sampai-sampai penderita dapat terlempar
dari tempat tidur atau menggigit lidah sendiri. Ludah berbuih bercampur darah
keluar dari mulut, mata merah dan muka biru. Kejang berangsung ± 1 menit
4. Tingkat
koma : setelah kejang klonis, penderita mengalami koma, lamanya bervariasi
mulai dari beberapa menit sampai berjam-jam. Bila sadar kembali, penderita
tidak ingat sama sekali apa yang telah terjadi (amnesia retrograd).4
B. Patologi
Dalam tubuh penderita yang meninggal dunia akibat
eklamsia dapat ditemukan kelainan-kelainan hati, ginjal, otak, paru dan
jantung. Umumnya terdapat tanda-tanda nekrosis, perdarahan, edema, hiperimia
atau iskemia dan trombosis.4
Di plasenta, dapat ditemukan infark
akibat degenerasi lapisan trofoblas. Perubahan lain yang dapat dijumpai antara
lain retensi air dan natrium, hemokonsentrasi dan terkadang asidosis.
C. Etiologi
Penyebab
eklamsia belum diketahui benar. Oleh karena eklamsia merupakan kelanjutan atau
stadium akhir preeklamsis, faktor-faktor yang memengaruhi kejadiannya sama
dengan preeklamsia.4
D. Diagnosis
Untuk
menegakkan diagnosis eklamsia, keadaan-keadaan lain yang menyebabkan kejang dan
demap seperti kecunan, tenataus dan epilepsi harus disingkirkan. Diagnosis
eklamsia yang terjadi lebih dari 24 jam pascasalin harus dicurigai. Namun
demikian, semua ibu dalam masa kehamilan dan masa yang mengalami kejang dan
hipertensi harus dianggap sebagai penderita eklamsia sampai terbukti bukan.4
E. Pengelolaan
1. Profilaksis/pencegahan:
menemukan kasus preeklamsia sedini mungkin danmengobatinya dengan adekuat.
2. Pengobatan
: karena eklamsia merupakan keadaan gawat darurat yang sangat berbahaya bagi
keselamatan ibu dan anak, penderita harus dirawat di unit perawatan intensif
(ICU). Secara teoritis, eklamsia adalah penyakit yang disebabkan oleh
kehamilan, maka pengobatan yang terbaik adalah secepat mungkin mengakhiri
kehamilan, misalnya dengan seksio sesaria ataupun melakukan persalinan
pervaginam.4
Tujuan pengobatan eklamsia
yaitu :
a. Mencegah
kejang berulang
b. Menurunkan/
mengendalikan tekanan darah
c. Mengatasihemokonsentrasi
dan memperbaiki diuresis dengan pemberian cairan seperti RL
d. Mengatasi
hipoksia dan asidosis dengan mengusahakan agar penderita memperoleh O2
dan mempertahankan kebebasan jalan nafas.
e. Mengakhiri
kehamilan tanpa memandang usai kehamilan, setelah kejang teratasi.
F. Pengobatan
medisinal
1. Pemberian
MgSO4 sebagai obat untuk mengatasi kejang pada eklamsia
2. Pemberian
obat suportif seperti anti hipertensi, kardiotonik, antipiretik, antibiotik,
dan anti nyeri sesuai indikasi sebagaimana pengobatan pre eklamsia
3. Perawatan
serangan kejang dan koma:
a. dikamar
isolasi yang cukup terang dan tenang
b. mulut
penderita dipasang tong spatel
c. kepala
direndahkan dan daerah orofaring diisap
d. fiksasi
badan ketempat tidur harus cukup kendor guna menghindari fraktur
e. untuk
mengatasi status konvulsivus dapat dipertimbangkan suntikan benzodiazepin,
fenitoinatau diazepam
f. untuk
mengatasi edema otak, dapat diberikan infus cairan mannitol, gliserol atau
deksametason.
g. Kesadaran
dan kedalaman koma dipantau
h. Dekubitus
dicegah
i.
Nutrisi dapat diberika melalui NGT
(nasogastric tube)
G. Pengelolaan
Obstetrik
Sikap
dasar pengelolaan obstetrik adalah semua kehamilan dengan ekamsia harus
diakhiri tanpa memandang usia kehamilan atau keadaan janin. Waktu pengakhiran
kehamilan ditetapkan bila hemodinamika dan metabolisme ibu sudah penuh/stabil,
yakni 4-8 jam setelah salah satu atau lebih
dari keadaan ini:
1. Setelah
pemberian obat anti kejang terakhir
2. Setelah
kejang trakhir
3. Setelah
pemberian oba-obat antihipertensi terakhir
4. Pasien
mulai sabar (responsif).4
SINDROM HELLP
A. Definisi
Sindrom Hemolysis Elevated Liver enzymes Low
Platelets (HELLP) merupakan suatu komplikasi obstetri yang dapat membahayakan
nyawa. Sindrom HELLP biasanya dihubungkan dengan kondisi pre eklampsia.
Kriteria sindrom HELLP adalah Hemolytic Anemia,
Elevated Liver enzymes, Low Platelet count. Komplikasi yang dapat menyertai
adalah terlepasnya plasenta (abruption), edema paru paru, acute respiratory
distress syndrome (ARDS), hematom pada hati dan pecah, gagal ginjal akut,
disseminated intravascular coagulation (DIC), eklampsia, perdarahan intraserebral,
dan kematian maternal.
B. Patofisiologi
Penyebab sindrom HELLP secara pasti belum diketahui,
sindrom menyebabkan terjadinya kerusakan endotelial mikrovaskuler dan aktivasi
platelet intravaskuler. Aktivasi platelet akan menyebabkan pelepasan tromboksan
A dan serotonin, dan menyebabkan terjadinya vasospasme, aglutinasi, agregasi
platelet, serta kerusakan endotelial lebih lanjut. Kaskade ini hanya bisa
dihentikan dengan terminasi kehamilan.
Sel-sel darah merah yang mengalami hemolisis akan
keluar dari pembuluh darah yang telah rusak, membentuk timbunan fibrin. Adanya
timbunan fibrin di sinusoid akan mengakibatkan hambatan aliran darah hepar,
akibatnya enzim hepar akan meningkat.
Proses ini terutama terjadi di hati, dan dapat
menyebabkan terjadinya iskemia yang mengarah kepada nekrosis periportal dan
akhirnya mempengaruhi organ lainnya.6
C. Tatalaksana
Syndrom Hellp : lakukan terminasi kehamilan.7
BAB
III
PENUTUP
PENUTUP
A. kesimpulan
1. Hipertensi
dalam kehamilan (HDK) adalah hipertensi yang terjadi saat kehamilan berlangsung
dan biasanya pada bulan terakhir kehamilan (Junaidi, 2010). Terjadinya
hipertensi ini (≥140/90 mmHg) dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara
lain riwayat keluarga, stres, nutrisi, umur, paritas, aktivitas, dan eklamsia.1
HDK dibagi menjadi hipertensi kronik dan hipertensi gastosional.
2. Preeklampsi
adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan atau edema setelah umur
kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul
sebelum umur kehamilan 20 minggu pada penyakit trofoblas.3 preeklamsia
dibagi menjadi preeklamsia ringan dan berat.
3. Eklamsia
adalah kejang yang dialami wanita hamil dalam persalinan atau masa nifas yang
disertai gejala-gejala preeklamsia (hipertensi, edema dan proteinuria).4
menurut saat terjadinya, eklamsia dapat dibedakan atas : Eklamsia antepartum,
eklamsia intrapartum dan eklamsia pascasalin
4. Sindrom
Hemolysis Elevated Liver enzymes Low Platelets (HELLP) merupakan suatu
komplikasi obstetri yang dapat membahayakan nyawa. Sindrom HELLP biasanya
dihubungkan dengan kondisi pre eklampsia. Kriteria sindrom HELLP adalah
Hemolytic Anemia, Elevated Liver enzymes, Low Platelet count. Komplikasi yang
dapat menyertai adalah terlepasnya plasenta (abruption), edema paru paru, acute
respiratory distress syndrome (ARDS), hematom pada hati dan pecah, gagal ginjal
akut, disseminated intravascular coagulation (DIC), eklampsia, perdarahan
intraserebral, dan kematian maternal.
DAFTAR
PUSTAKA
1. Zakiah,
Niswah., etc. 2012. Faktor-faktor yang
mempengaruhi terjadinya hipertensi pada ibu hamil dirumah sakit khusus daerah
ibu dan anak Siti Fatimah Makassar. Vol 1(2). ISSN : 2302-1721.
2. Rahmawati,
Imami N. 2004. Hipertensi Pada Kehamilan
: Analisis Kasus. Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 8(1).
3. Yogi,
Etika Desi., etc. 2014. Hubungan Antara
Usia dengan Preeklamsia pada ibu hamil di poli KIA RSUD Kefanenanu kabupaten
Timor Tengan Utara. Jurnal Delima Harapan, Vol 3 (2).
4. Effendi,
Jusuf, etc. 2015. Obstetri Patologi. Jakarta: EGC
5. Manuaba,
Ida Ayu Chandranita, etc. 2013. Ilmu
Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan KB, untuk Pendidikan Bidan, Ed 2.
Jakarta: ECG
6. Rahardjo,
Eddy., Maulidya. 2012. Syndrom HELLP,
Eklamsia dan Perdarahan Intrakranial. Vol 2(1).
7.
Kemenkes RI. 2013. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di
Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Pedoman pertama hal 109
0 komentar:
Posting Komentar