Selasa, 23 Februari 2016

hipertensi dalam kehamilan, preeklamsia, eklamsia dan sindrom hellp



BAB I
PENDAHULUAN

A.    latar belakang
Setiap tahun sekitar setengah juta perempuan di dunia meninggal akibat komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan (WHO, 1996). Lebih dari separuhnya berada di negara Asia.2  Penyebab utama terjadinya kematian ibu dapat di bagi 4 (empat) kelompok yaitu langsung, terjadi tanpa dapat diduga sebelumnya, dan tidak diketahui penyebabnya, penyebab langsung kematian ibu yang paling umum di Indonesia adalah preeklampsia/eklampsia, perdarahan, dan infeksi.3 World Health Organization (WHO) melaporkan pada tahun 2005 terdapat 536.000 wanita hamil meninggal akibat hipertensi pada saat persalinan di seluruh dunia. Angka Kematian Ibu (AKI) di Subsahara Afrika 270/100.000 kelahiran hidup, di Asia Selatan 188/100.00 kelahiran hidup dan di Asia Tenggara 35/100.000.(World Health Oorganization, 2010).1
Berdasarkan laporan WHO pada tahun 2005, di Indonesia angka kematian ibu tergolong tinggi yaitu 420/100.000 kelahiran hidup dibandingkan dengan negara-negara
ASEAN. AKI di Singapura 14/100 kelahiran hidup, di Malaysia 62/100.000 kelahiran hidup dan di Thailand 110/100.000 kelahiran hidup. Di Vietnam 150/100.000 kelahiran hidup, di Filipina 230/100.000 kelahiran hidup dan Myanmar 380/100.000 kelahiran hidup. (World Health Oganization, 2010). Angka Kematian Ibu merupakan indikator keberhasilan pembangunan pada sektor kesehatan. AKI mengacu pada jumlah kematian ibu mulai dari masa kehamilan, persalinan dan nifas. Menurut data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2009, AKI di Indonesia 307/100.000 kelahiran hidup dan tahun 2009, 228/100.000 kelahiran hidup. Penurunan AKI di Indonesia masih terlalu lambat untuk mencapai target Tujuan pembangunan yaitu menurunkan angka kematian ibu tiga per empat selama kehamilan dan persalinan. Rentang tahun 2003-2009 penurunan AKI di Indonesia, jauh dari target yang ingin dicapai pada tahun 2010 dan 2015 diperkirakan 125/100.000 kelahiran hidup dan 115/100.000 kelahiran hidup1.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik mengangkat makalah mengenai hipertensi dalam kehamilan, preeklamsia, eklamsia dan syindrom hellp.


BAB II
TINJAUAN TEORI

HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN



A.    Definisi
Hipertensi dalam kehamilan (HDK) adalah hipertensi yang terjadi saat kehamilan berlangsung dan biasanya pada bulan terakhir kehamilan (Junaidi, 2010). Terjadinya hipertensi ini (≥140/90 mmHg) dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain riwayat keluarga, stres, nutrisi, umur, paritas, aktivitas, dan eklamsia.1
B.     klasifikasi hipertensi
Hipertensi dalam kehamilan saat ini dibedakan menurut The Working Group of Hypertensive Disordes Complicating Pregnancy (2000) sebagai berikut :
1.      hipertensi gestasional yaitu terjadinya hipertensi ringan selama kehamilan pada ibu yang sebelumnya normotensif, tanpa disertai proteinuria dan kelainan hasil laboratorium lain. Diagnosis hipertensi gastosional yaitu :
a.       Tekanan darah ≥140/90 mmHg
b.      Tidak ada riwayat hipertensi sebelum hamil, tekanan darah normal di usia kehamilan <12 minggu
c.       Tidak ada proteinuria (diperiksa dengan tes celup urin)
d.      Dapat disertai tanda dan gejala preeklampsia, seperti nyeri ulu hati dan trombositopenia
e.       Diagnosis pasti ditegakkan pascapersalinan
Tatalaksana umum hipertensi gastosional :
a.       Pantau tekanan darah, urin (untuk proteinuria), dan kondisi janin setiap minggu.
b.      Jika tekanan darah meningkat, tangani sebagai preeklampsia ringan.
c.       Jika kondisi janin memburuk atau terjadi pertumbuhan janin terhambat, rawat untuk penilaian kesehatan janin.
d.      Beri tahu pasien dan keluarga tanda bahaya dan gejala preeklampsia dan eklampsia.
e.       Jika tekanan darah stabil, janin dapat dilahirkan secara normal.

f.       Hipertensi kronik adalah Hipertensi tanpa proteinuria yang timbul dari sebelum kehamilan dan menetap setelah persalinan dengan diagnosis:
a.       Tekanan darah 140/90 mmHg
b.      Sudah ada riwayat hipertensi sebelum hamil, atau diketahui adanya
c.       hipertensi pada usia kehamilan <20 minggu
d.      Tidak ada proteinuria (diperiksa dengan tes celup urin)
e.       Dapat disertai keterlibatan organ lain, seperti mata, jantung, dan ginjal
Tatalaksana umum hipertensi kronik :
a.       Anjurkan istirahat lebih banyak.
b.      Pada hipertensi kronik, penurunan tekanan darah ibu akan mengganggu perfusi serta tidak ada bkti-bukti bahwa tekanan darah yang normal akan memperbaiki keadaan janin dan ibu.
c.       Jika pasien sebelum hamil sudah mendapat obat antihipertensi, dan terkontrol dengan baik, lanjutkan pengobatan tersebut
d.      Jika tekanan diastolik >110 mmHg atau tekanan sistolik >160 mmHg, berikan antihipertensi
e.       Jika terdapat proteinuria atau tanda-tanda dan gejala lain, pikirkan superimposed preeklampsia dan tangani seperti preeklampsia
f.       Berikan suplementasi kalsium1,5-2 g/hari dan aspirin 75 mg/hari mulai dari usia kehamilan 20 minggu
g.      Pantau pertumbuhan dan kondisi janin.
h.      Jika tidak ada komplikasi, tunggu sampai aterm.
i.        Jika denyut jantung janin <100 kali/menit atau >180 kali/menit, tangani seperti gawat janin.
j.        Jika terdapat pertumbuhan janin terhambat, pertimbangkan terminasi kehamilan.





PRE-EKLAMSIA

A.    Definisi
Preeklampsi adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan atau edema setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu pada penyakit trofoblas.3
B.     Klasifikasi
1.      Preeklamsia ringan
Adalah Suatu sindroma spesifik kehamilan dengan menurunnya perfusi organ yang berakhibat terjadinya vasospasme pembuluh darah dan aktivasi endotel. (Prawirohardjo, 2009. 543). Sedangkan menurut ilmu kebidanan praktis :61 Adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan / atau edema setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu pada penyakit trofoblas. Gejala dan tanda preeklampsia ringan yaitu:3
a.       Tekanan darah sistolik 140 atau kenaikan 30 mmHg dengan interval pemeriksaan setiap 6 iam.
b.      Tekanan darah diastolik 90 atau kenaikan 15 mmHg dengan interval pemeriksaan setiap 6 jam.
c.       Kenaikan berat badan 1 kg atau lebih dalam seminggu.
d.      Proteinuria 0,3 gr atau lebih dengan tingkat kualitatif plus 1 sampai 2 pada urin kateter atau urin aliran pertengahan.3
2.      Preeklampsia berat
Adalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya hipertensi 160/110 mmhg atau lebih disertai proteinuria dan atau edema pada kehamilan 20 minggu atau lebih menurut ilmu kebidanan praktis.63. Sedangkan menurut Prawirohardjo ( 2009. 544) adalah preeklampsia dengan tekanan darah sistolik > 160 mmHg dan tekanan darah diastolic > 110 mmHg disertai proteinuria lebih 5 g/ 24 jam. Gejala dan tanda preeklampsia berat yaitu :
a.       Tekanan darah 160/110 mmHg
b.      Oliguria, urin < 400 cc/24 jam.
c.       Proteinuria lebih dari 3 gr/liter.3
C.     Etiologi
Penyebab preeklamsia belum diketahui pasti. Namun demikian, penyakit ini lebih sering ditemukan pada wanita hamil yang :
1.      Terpajan vili korialis pertama kali (primigravida atau primipaternitas)
2.      Terpajan vilikorialis berlebihan (hiperplasentosis), misalnya pada kehamilan kembar atau mola hidatidosa
3.      Mempunyai dasar penyakit ginjal atau kardiovaskuler
4.      Mempunyai riwayat preeklamsia/eklamsia dalam keluarga.4

D.    Gambaran klinis pre-eklamsia
Gambaran klinis mulai dengan kenaikan berat badan diikuti edema kaki atau tangan, peningkatan tekanan darah dan terakhir terjadi proteinuria. Pada preeklamsia ringan, gejala subjektif belum dijumpai, tetapi pada preeklamsia berat diikuti keluhan subjectif berupa sakit kepala terutama daerah frontalis, rasa nyeri didaerah epigastrikum, gangguan mata, pengelihatan menjadi kabur, terdapat mual sampai muntah,gangguan pernapasan sampai sianosis, dan terjadi gangguan kesadaran. Dengan pengeluaran proteinuria, keadaan penyakit semakin berat, karena terjadi gangguan fungsi ginjal.5

E.     Dasar diagnosis pre-eklamsia
Kejadian pre-eklamsia dan eklamsia sulit dicegah, tetapi diagnosis dini sangat menentukan prognosis janin. Pengawasan hamil sangat penting karena preeklamsia berat dan eklamsia merupakan penyebab kematian yang cukup tinggi, terutama dinegara berkembang. Diagnosis ditetapkan dengan dua dari trias preeklamsia yaitu kenaikan berat badan-edema, kenaikan tekanan darah, dan terdapat proteinuria.5
      Pre-eklamsia digolongkan ke dalam pre-eklamsia ringan dan berat dengan tanda dan gejala sebagai berikut : peningkatan gejala dan tanda preeklamsia berat memberikan petunjuk akan terjadi eklamsia, yang mempunyai prognosis buruk dengan angka kematian maternal dan janin tinggi.5




F.      Pencegahan kejadian pre-eklamsia dan eklamsia
Untuk mencegah kejadian pre-eklamsia dapat diberikan nasihat tentang :
1.      Diet-makanan. Makanan tinggi protein, tinggi karbohitrat, cukup vitamin dan rendah lemak, kurangi garam apabila berat badan bertambah atau edema, makanan beroirentasi pada empat sehat lima sempurna, dan untuk meningkatkan jumlah protein dengan tambahan satu butir telur setiap hari.
2.      Cukup istirahat, istirahat yang cukup sesuai pertambahan usia kehamilan berarti bekerja seperlunya dan disesuaikan dengan kemampuan. Lebih banyak duduk atau berbaringkearah punggung janin sehingga aliran darah menuju plasenta tidak mengalami gangguan.
3.      Pengawasan antenatal (hamil). Bila terjadi perubahan perasaan dan gerak janin dalam rahim segera datang ketempat pemeriksaan. Keadaan yang memerlukan perhatian:
a.       Uji kemungkinan preeklamsia :
·         Pemeriksaan tekanan darah atau kenaikannya
·         Pemeriksaan tinggi fundus uteri
·         Pemeriksaan kenaikan berat badan atau edema
·         Pemeriksaan protein urin
·         Jika mungkin dilakukan pemeriksaan fungsi ginjal, fungsi hati, gambaran darah umum, dan pemeriksaan retina mata
b.      Penialaian kondisi janin dalam rahim
·         Pemantauan tinggi fundus uteri
·         Pemeriksaan janin (gerakan janin dalam rahim, denyut jantung janin, pemantauan air ketuban)
·         Usulkan untuk melakukan pemeriksaan ultrasonografi.5

G.    Indikasi perawatan aktif
1.      Ibu :
a.       Kehamilan > 37 minggu
b.      Tanda dan gejala impending eclampsia, seperti nyeri kepala hebat, pengelihatan kabur, nyeri ulu hati, gelisah dan hiper-refleksia, gagal terapi konservatif, peningkatan tekanan darah dalam 6 jam sejak terapi medisinal dimulai, dan gagal perbaikan setelah 24 jam sejak terapi medisinal dimualai.4
2.      Janin : terjadi gawat janin dan PJT (pertumbuhan janin terhambat)
3.      Laboratorik : sindrom hellp (hemolysis, elevated liver enzyme, low platelet count)..4

H.    Pengobatan medisinal
1.      Obat anti kejang:
a.       Terapi pilihan pada preeklamsia adalah magnesium sulfat (MgSO4). Sebaiknya MgSO4 diberikan terus menerus secara IV atau berkala secara IM.
Pemberian IV terus menerus menggunakan infusin pump.
·         Dosis awal : 4 gram MgSO4  20% (20 cc) dilarutkan kedalam 100 cc cairan Ringer Laktat atau Ringer  Dextrose selama 15-20 menit secara IV.
·         Dosis pemeliharaan : 10 gram MgSO4 20% dalam 500 cc RL/RD dengan kecepatan 1-2 gram/jam
Pemberian IM berkala :
·         Dosis awal : 4 gram MgSO4 20% (20 cc) secara IV dengan kecepatan 1 gram/menit
·         Dosis pemeliharaan : 4 gram MgSO4 40% (10 cc) IM setiap 4 jam. Tambahkan 1 cc Lidokain 2% setiap pemberian IM untuk mengurangi nyeri dan panas.
Syarat-syarat pemberian MgSO4 :
·         Harus tersedia antidotum, yaitu kalsium glukonas 10% (1 gram dalam 10 cc)
·         Frekuensi pernapasan ≥ 16x/menit
·         Produksi urin ≥ 30 cc/jam (≥0.5 cc/kg berat badan/jam)
·         Refleks patella (+)
MgSO4 dihentikan pemberiannya bila:
·         Ada tanda-tanda intoksikasi
·         Setelah 24 jam pascasalin
·         Dalam 6 jam pascasalin terjadi perbaikan (normotensif)
b.      Diazepam : dapat diberikan bila tidak tersedia MgSO4 sebagai obat pilihan. Diazepam  IV diberikan dengan dosis 10 mg dan dapat diulangi setelah 6 jam.
2.      Obat antihipertensi : hanya diberikan bila tekanan darah sistolik > 180 mmHg dan/atau diastolik >110 mmHg.
3.      Lain-lain :
a.       Diuretikum : tidak diberikan kecuali bila ada edema paru, gagal jantung kongesif atau edema anasarka
b.      Kardiotonika : bila ada tanda-tanda payah jantung
c.       Anti piretik : bila ada demam
d.      Antibiotik : bila ada tanda-tanda infeksi
e.       Anti nyeri : bila penderita gelisah karena kesakitan.4

I.       Pengelolaan obstetrik
Pengelolaan preeklamsia yang terbaik ialah mengakhiri kehamilan karena :
1.      Penyebabnya adalah kehamilan itu sendiri
2.      Preeklamsia akan membaik setelah persalinan
3.      Mampu mencegah kematian janin dan ibu
Namun, bila kehamilan belum matur dan ibu serta janin masih baik, perawatan konservatif dapat dilakukan untuk mempertahankan kehamilan sampai berumur 37 minggu.
Bila persyaratan perawatan konservatif tidak terpenuhi, kehamilan sebaiknya segera diakhiri dengan induksi atau augmentasi. Persalinan pervaginam diselesaikan dengan partus buatan. Bila ada indikasi, seksio sesarea dapat dilakukan.4



EKLAMSIA

A.    Definisi
Eklamsia adalah kejang yang dialami wanita hamil dalam persalinan atau masa nifas yang disertai gejala-gejala preeklamsia (hipertensi, edema dan proteinuria).4 menurut saat terjadinya, eklamsia dapat dibedakan atas :
1.      Eklamsia antepartum : terjadi sebelum kehamilan
2.      Eklamsia intrapartum : terjadi sewaktu persalinan
3.      Eklamsia pascasalin : terjadi setelah persalinan. Eklamsia pascasalin dapat terjadi segera (early postpartum, setelah 24 jam-7 hari pascasalin) atau lambat (late postpartum, setelah 7 hari pascasalin selama masa nifas).
Serangan kejang eklamsia dapat dibedakan kedalam 4 tingkat:
1.      Tingkat invasi (tingkat permulaan) : mata terpaku, kepala dipalingkan ke satu sisi, muka memperlihatkan kejang-kejang halus. Tingkat ini berlangsung beberapa detik.
2.      Tingkat kontraksi (tingkat kejang tonis) : seluruh badan kaku, kadang-kadang terjadi epistotonus yang lamanya 15-20 detik.
3.      Tingkat konvulsi ( tingkat kejang klonis) : kejang hilang timbul, rahang membuka dan menutup begitu pula mata, otot-otot muka dan otot badan berkontraksi dan berelaksai berulang. Kejang sangat kuat sampai-sampai penderita dapat terlempar dari tempat tidur atau menggigit lidah sendiri. Ludah berbuih bercampur darah keluar dari mulut, mata merah dan muka biru. Kejang berangsung ± 1 menit
4.      Tingkat koma : setelah kejang klonis, penderita mengalami koma, lamanya bervariasi mulai dari beberapa menit sampai berjam-jam. Bila sadar kembali, penderita tidak ingat sama sekali apa yang telah terjadi (amnesia retrograd).4
B.     Patologi
Dalam tubuh penderita yang meninggal dunia akibat eklamsia dapat ditemukan kelainan-kelainan hati, ginjal, otak, paru dan jantung. Umumnya terdapat tanda-tanda nekrosis, perdarahan, edema, hiperimia atau iskemia dan trombosis.4
            Di plasenta, dapat ditemukan infark akibat degenerasi lapisan trofoblas. Perubahan lain yang dapat dijumpai antara lain retensi air dan natrium, hemokonsentrasi dan terkadang asidosis.

C.     Etiologi
Penyebab eklamsia belum diketahui benar. Oleh karena eklamsia merupakan kelanjutan atau stadium akhir preeklamsis, faktor-faktor yang memengaruhi kejadiannya sama dengan preeklamsia.4

D.    Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis eklamsia, keadaan-keadaan lain yang menyebabkan kejang dan demap seperti kecunan, tenataus dan epilepsi harus disingkirkan. Diagnosis eklamsia yang terjadi lebih dari 24 jam pascasalin harus dicurigai. Namun demikian, semua ibu dalam masa kehamilan dan masa yang mengalami kejang dan hipertensi harus dianggap sebagai penderita eklamsia sampai terbukti bukan.4

E.     Pengelolaan
1.      Profilaksis/pencegahan: menemukan kasus preeklamsia sedini mungkin danmengobatinya dengan adekuat.
2.      Pengobatan : karena eklamsia merupakan keadaan gawat darurat yang sangat berbahaya bagi keselamatan ibu dan anak, penderita harus dirawat di unit perawatan intensif (ICU). Secara teoritis, eklamsia adalah penyakit yang disebabkan oleh kehamilan, maka pengobatan yang terbaik adalah secepat mungkin mengakhiri kehamilan, misalnya dengan seksio sesaria ataupun melakukan persalinan pervaginam.4
Tujuan pengobatan eklamsia yaitu :
a.       Mencegah kejang berulang
b.      Menurunkan/ mengendalikan tekanan darah
c.       Mengatasihemokonsentrasi dan memperbaiki diuresis dengan pemberian cairan seperti RL
d.      Mengatasi hipoksia dan asidosis dengan mengusahakan agar penderita memperoleh O2 dan mempertahankan kebebasan jalan nafas.
e.       Mengakhiri kehamilan tanpa memandang usai kehamilan, setelah kejang teratasi.




F.      Pengobatan medisinal
1.      Pemberian MgSO4 sebagai obat untuk mengatasi kejang pada eklamsia
2.      Pemberian obat suportif seperti anti hipertensi, kardiotonik, antipiretik, antibiotik, dan anti nyeri sesuai indikasi sebagaimana pengobatan pre eklamsia
3.      Perawatan serangan kejang dan koma:
a.       dikamar isolasi yang cukup terang dan tenang
b.      mulut penderita dipasang tong spatel
c.       kepala direndahkan dan daerah orofaring diisap
d.      fiksasi badan ketempat tidur harus cukup kendor guna menghindari fraktur
e.       untuk mengatasi status konvulsivus dapat dipertimbangkan suntikan benzodiazepin, fenitoinatau diazepam
f.       untuk mengatasi edema otak, dapat diberikan infus cairan mannitol, gliserol atau deksametason.
g.      Kesadaran dan kedalaman koma dipantau
h.      Dekubitus dicegah
i.        Nutrisi dapat diberika melalui NGT (nasogastric tube)

G.    Pengelolaan Obstetrik
Sikap dasar pengelolaan obstetrik adalah semua kehamilan dengan ekamsia harus diakhiri tanpa memandang usia kehamilan atau keadaan janin. Waktu pengakhiran kehamilan ditetapkan bila hemodinamika dan metabolisme ibu sudah penuh/stabil, yakni 4-8 jam setelah salah satu atau lebih  dari keadaan ini:
1.      Setelah pemberian obat anti kejang terakhir
2.      Setelah kejang trakhir
3.      Setelah pemberian oba-obat antihipertensi terakhir
4.      Pasien mulai sabar (responsif).4





SINDROM HELLP

A.    Definisi
Sindrom Hemolysis Elevated Liver enzymes Low Platelets (HELLP) merupakan suatu komplikasi obstetri yang dapat membahayakan nyawa. Sindrom HELLP biasanya dihubungkan dengan kondisi pre eklampsia.
Kriteria sindrom HELLP adalah Hemolytic Anemia, Elevated Liver enzymes, Low Platelet count. Komplikasi yang dapat menyertai adalah terlepasnya plasenta (abruption), edema paru paru, acute respiratory distress syndrome (ARDS), hematom pada hati dan pecah, gagal ginjal akut, disseminated intravascular coagulation (DIC), eklampsia, perdarahan intraserebral, dan kematian maternal.

B.     Patofisiologi
Penyebab sindrom HELLP secara pasti belum diketahui, sindrom menyebabkan terjadinya kerusakan endotelial mikrovaskuler dan aktivasi platelet intravaskuler. Aktivasi platelet akan menyebabkan pelepasan tromboksan A dan serotonin, dan menyebabkan terjadinya vasospasme, aglutinasi, agregasi platelet, serta kerusakan endotelial lebih lanjut. Kaskade ini hanya bisa dihentikan dengan terminasi kehamilan.
Sel-sel darah merah yang mengalami hemolisis akan keluar dari pembuluh darah yang telah rusak, membentuk timbunan fibrin. Adanya timbunan fibrin di sinusoid akan mengakibatkan hambatan aliran darah hepar, akibatnya enzim hepar akan meningkat.
Proses ini terutama terjadi di hati, dan dapat menyebabkan terjadinya iskemia yang mengarah kepada nekrosis periportal dan akhirnya mempengaruhi organ lainnya.6

C.     Tatalaksana Syndrom Hellp : lakukan terminasi kehamilan.7





BAB III
PENUTUP

A.    kesimpulan
1.      Hipertensi dalam kehamilan (HDK) adalah hipertensi yang terjadi saat kehamilan berlangsung dan biasanya pada bulan terakhir kehamilan (Junaidi, 2010). Terjadinya hipertensi ini (≥140/90 mmHg) dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain riwayat keluarga, stres, nutrisi, umur, paritas, aktivitas, dan eklamsia.1 HDK dibagi menjadi hipertensi kronik dan hipertensi gastosional.
2.      Preeklampsi adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan atau edema setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu pada penyakit trofoblas.3 preeklamsia dibagi menjadi preeklamsia ringan dan berat.
3.      Eklamsia adalah kejang yang dialami wanita hamil dalam persalinan atau masa nifas yang disertai gejala-gejala preeklamsia (hipertensi, edema dan proteinuria).4 menurut saat terjadinya, eklamsia dapat dibedakan atas : Eklamsia antepartum, eklamsia intrapartum dan eklamsia pascasalin
4.      Sindrom Hemolysis Elevated Liver enzymes Low Platelets (HELLP) merupakan suatu komplikasi obstetri yang dapat membahayakan nyawa. Sindrom HELLP biasanya dihubungkan dengan kondisi pre eklampsia. Kriteria sindrom HELLP adalah Hemolytic Anemia, Elevated Liver enzymes, Low Platelet count. Komplikasi yang dapat menyertai adalah terlepasnya plasenta (abruption), edema paru paru, acute respiratory distress syndrome (ARDS), hematom pada hati dan pecah, gagal ginjal akut, disseminated intravascular coagulation (DIC), eklampsia, perdarahan intraserebral, dan kematian maternal.








DAFTAR PUSTAKA

1.      Zakiah, Niswah., etc. 2012. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi pada ibu hamil dirumah sakit khusus daerah ibu dan anak Siti Fatimah Makassar. Vol 1(2). ISSN : 2302-1721.
2.      Rahmawati, Imami N. 2004. Hipertensi Pada Kehamilan : Analisis Kasus. Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 8(1).
3.      Yogi, Etika Desi., etc. 2014. Hubungan Antara Usia dengan Preeklamsia pada ibu hamil di poli KIA RSUD Kefanenanu kabupaten Timor Tengan Utara. Jurnal Delima Harapan, Vol 3 (2).
4.      Effendi, Jusuf, etc. 2015. Obstetri Patologi. Jakarta: EGC
5.      Manuaba, Ida Ayu Chandranita, etc. 2013. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan KB, untuk Pendidikan Bidan, Ed 2. Jakarta: ECG
6.      Rahardjo, Eddy., Maulidya. 2012. Syndrom HELLP, Eklamsia dan Perdarahan Intrakranial. Vol 2(1).
7.      Kemenkes RI. 2013. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Pedoman pertama hal 109

0 komentar:

Posting Komentar