Selasa, 18 Agustus 2015

laporan kasus ruang dahlia RSUD tarakan

BAB II
PEMBAHASAN


A.     PENGERTIAN
Anemia adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan kadar hemoglobin (Hb) atau sel darah merah (eritrosit) sehingga menyebabkan penurunan kapasitas sel darah merah dalam membawa oksigen (Badan POM, 2011)
Anemia adalah penyakit kurang darah, yang ditandai dengan kadar hemoglobin (Hb) dan sel darah merah (eritrosit) lebih rendah dibandingkan normal. Jika kadar hemoglobin kurang dari 14 g/dl dan eritrosit kurang dari 41% pada pria, maka pria tersebut dikatakan anemia. Demikian pula pada wanita, wanita yang memiliki kadar hemoglobin kurang dari 12 g/dl dan eritrosit kurang dari 37%, maka wanita itu dikatakan anemia.

B.     KLASIFIKASI ANEMIA
Klasifikasi berdasarkan pendekatan fisiologis:
1.      Anemia hipoproliferatif, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah merah disebabkan oleh defek produksi sel darah merah, meliputi:
a.       Anemia aplastik
Penyebab:
·         agen neoplastik/sitoplastik
·         terapi radiasi
·         antibiotic tertentu
·         obat antu konvulsan, tyroid, senyawa emas, fenilbutason
·         benzene
·         infeksi virus (khususnya hepatitis)
Gejala-gejala:
·         Gejala anemia secara umum (pucat, lemah, dll)
·         Defisiensi trombosit: ekimosis, petekia, epitaksis, perdarahan saluran cerna, perdarahan saluran kemih, perdarahan susunan saraf pusat.
·         Morfologis: anemia normositik normokromik

b.      Anemia pada penyakit ginjal
Gejala-gejala:
·         Nitrogen urea darah (BUN) lebih dari 10 mg/dl
·         Hematokrit turun 20-30%
·         Sel darah merah tampak normal pada apusan darah tepiyang penyebabnya adalah menurunnya ketahanan hidup sel darah merah maupun defisiensi eritopoitin
c.       Anemia pada penyakit kronis
Berbagai penyakit inflamasi kronis yang berhubungan dengan anemia jenis normositik normokromik (sel darah merah dengan ukuran dan warna yang normal).  Kelainan ini meliputi artristis rematoid, abses paru, osteomilitis, tuberkolosis dan berbagai keganasan
d.      Anemia defisiensi besi
Penyebab:
·         Asupan besi tidak adekuat, kebutuhan meningkat selama hamil, menstruasi
·         Gangguan absorbsi (post gastrektomi)
·         Kehilangan darah yang menetap (neoplasma, polip, gastritis, varises oesophagus, hemoroid,
Gejala-gejalanya:
·         Atropi papilla lidah
·         Lidah pucat, merah, meradang
·         Stomatitis angularis, sakit di sudut mulut
·         Morfologi: anemia mikrositik hipokromik
e.       Anemia megaloblastik
Penyebab:
·         Defisiensi defisiensi vitamin B12 dan defisiensi asam folat
·         Malnutrisi, malabsorbsi, penurunan intrinsik faktor
·         Infeksi parasit, penyakit usus dan keganasan, agen kemoterapeutik, infeksi cacing pita, makan ikan segar yang terinfeksi, pecandu alkohol.
2.      Anemia hemolitika, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah merah disebabkan oleh destruksi sel darah merah:
·         Pengaruh obat-obatan tertentu
·         Penyakit Hookin, limfosarkoma, mieloma multiple, leukemia limfositik kronik
·         Defisiensi glukosa 6 fosfat dihidrigenase
·         Proses autoimun
·         Reaksi transfusi
·         Malaria
Pembagian derajat anemia menurut WHO dan NCI (National Cancer Institute)
Derajat
WHO
NCI
Derajat 0 (nilai normal)
≥11 g/Dl
P : 12-16 g/dL, L: 14-16 g/dL
Derajat 1 (ringan)
9,5 – 10,9 g/dL
10 g/dL – nilai normal
Derajat 2 (sedang)
8 – 9,4 g/dL
8-10 g/dL
Derajat 3 (berat)
6,5 – 7,9 g/dL
6,5-7,9 g/dL
Derajat 4 (mengancam jiwa)
< 6,5 g/dL
< 6,5 g/dL




C.     ETIOLOGI:
1.      Hemolisis (eritrosit mudah pecah)
2.      Perdarahan
3.      Penekanan sumsum tulang (misalnya oleh kanker)
4.      Defisiensi nutrient (nutrisional anemia), meliputi  defisiensi besi, folic acid, piridoksin, vitamin C
dan copper


D.     PATOFISIOLOGI

Anemia
viskositas darah menurun
resistensi aliran darah perifer
penurunan transport O2 ke jaringan
hipoksia, pucat, lemah
beban jantung meningkat
kerja jantung meningkat
payah jantung

E.     TANDA DAN GEJALA
1.      Lemah, letih, lesu dan lelah
2.      Sering mengeluh pusing dan mata berkunang-kunang
3.      Gejala lanjut berupa kelopak mata, bibir, lidah, kulit dan telapak tangan menjadi pucat. Pucat oleh karena kekurangan volume darah dan Hb, vasokontriksi
4.      Takikardi dan bising jantung (peningkatan kecepatan aliran darah) Angina (sakit dada)
5.      Dispnea, nafas pendek, cepat capek saat aktifitas (pengiriman O2 berkurang)
6.      Sakit kepala, kelemahan, tinitus (telinga berdengung) menggambarkan berkurangnya oksigenasi pada SSP
7.      Anemia berat gangguan GI dan CHF (anoreksia, nausea, konstipasi atau diare)

F.      KEMUNGKINAN KOMPLIKASI YANG MUNCUL
Komplikasi umum akibat anemia adalah:
1.      gagal jantung,
2.      kejang.
3.      Perkembangan otot buruk ( jangka panjang )
4.       Daya konsentrasi menurun
5.      Kemampuan mengolah informasi yang didengar menurun

G.    PEMERIKSAAN KHUSUS DAN PENUNJANG
·         Kadar Hb, hematokrit, indek sel darah merah, penelitian sel darah putih, kadar Fe, pengukuran kapasitas ikatan besi, kadar folat, vitamin B12, hitung trombosit, waktu perdarahan, waktu protrombin, dan waktu tromboplastin parsial.
·         Aspirasi dan biopsy sumsum tulang seru. Unsaturated iron-binding capacity m
·         Pemeriksaan diagnostic untuk menentukan adanya penyakit akut dan kronis serta sumber kehilangan darah kronis.


H.    PENATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan anemia ditujukan untuk mencari penyebab dan mengganti darah yang hilang:
1.      Anemia aplastik:
·         Transplantasi sumsum tulang
·         Pemberian terapi imunosupresif dengan globolin antitimosit(ATG)
2.      Anemia pada penyakit ginjal
·         Pada pasien dialisis harus ditangani dengan  pemberian besi dan asam folat
·         Ketersediaan eritropoetin rekombinan
3.      Anemia pada penyakit kronis
Kebanyakan pasien tidak menunjukkan gejala dan tidak memerlukan penanganan untuk aneminya, dengan keberhasilan penanganan kelainan yang mendasarinya, besi sumsum tulang dipergunakan untuk membuat darah, sehingga Hb meningkat.
4.      Anemia pada defisiensi besi
·         Dicari penyebab defisiensi besi
·         Menggunakan preparat besi oral: sulfat feros, glukonat ferosus dan fumarat ferosus.
5.      Anemia megaloblastik
·         Defisiensi vitamin B12 ditangani dengan pemberian vitamin B12, bila difisiensi disebabkan oleh defekabsorbsi atau tidak tersedianya faktor intrinsik dapat diberikan vitamin B12 dengan injeksi IM.
·         Untuk mencegah kekambuhan anemia terapi vitamin B12 harus diteruskan selama hidup pasien yang menderita anemia pernisiosa atau malabsorbsi yang tidak dapat dikoreksi.
·         Anemia defisiensi asam folat penanganannya dengan diet dan penambahan asam folat 1 mg/hari, secara IM pada pasien dengan gangguan absorbsi.



BAB III
TINJAUAN KASUS PADA NY. E
DENGAN ANEMIA
DI RSUD TARAKAN RUANG DAHLIA KAMAR OBSERVASI3

Jam/tanggal pengkajian            : 12.00 wita/ sabtu, 15 agustus 2015
Dx                               : anemia
Tempat                                    : ruang dahlia kamar observasi3
A.     IDENTITAS
1.      Nama                           : Ny. E
2.      Tempat, tanggal lahir   : 26 september 1985
3.      Umur                           : 30 tahun
4.      Jenis kelamin               : perempuan
5.      Agama                         : islam
6.      Pendidikan                   : -
7.      Pekerjaan                     : IRT
8.      Alamat pasien              : mamburungan
9.      Diagnosa medik                       : anemia
10.  Anamnesa                    : pasien datang dengan keluhan lemas dan sesak. Lemah sejak ± 2 hari       yang lalu. BAB berwarna hitam sejak ± 4 hari (1-2x/hari). 4 hari sebelum masuk rumah sakit muntah 1x warana coklat kehitaman. 2 bulan sebelum masuk rumah sakit pasien dirawat karena perdarahan setelah melahirkan
11.  Keluhan utama                        : lemas, sesak
12.  Sejak                            :lemas ± 2 hari sebelum masuk rumah sakit
13.  Riwayat penyakit dahulu : jantung

B.     PEMERIKSAAN FISIK
1.      Keadaan sakit
Pasien tampak sakit berat. Alasan : karena pasien terpasang infus, kateter, dan oksigen dan terlihat lemah.
2.      Tanda-tanda vital
a.       Kesadaran              : compos mentis
b.      Tensi                      : 120/70 mmHg
c.       Nadi                       : 76 x/menit
d.      Suhu                      : 36,5
e.       Frek. Pernapasan   : 32 x/menit
f.       Hal mencolok yang ditemukan : -
3.      Pemeriksaan sistematis
a.       Rambut : lurus sepunggung, distribusi rambut merata, tidak ada lesi, masa, dan nyeri tekan serta warna hitam
b.      Hidrasi kulit : tidak ditemukan tanda finger print pada kulit dahi
c.       Palpebra : tidak ada edema
d.      Cornea, sclera dan konjungtiva : cornea baik, sclera berwarna putih dan konjungtiva berwarna pink dan tidak ada tanda radang
e.       TIO : tidak ditemukan nyeri tekan dan isokor
f.       Pupil dan refleks cahaya : pupil berbentuk bulat dan refleks cahaya baik
g.       Visus : tidak dilakukan pengkajian
h.      Hidung : bentuk simetris, tidak terdapat polip, septum ditengah dan tidak terjadi mimisan
i.        Wajah : tampak pucat
j.        Mulut ; bibir pucat dan pecah-pecah, terdapat apthae, graham bolong dan lidah bersih
k.      Telinga : simetris kanan kiri, tes pendengaran tidak dikaji
l.        Kelenjar getah bening : tidak ada pembesaran kelenjar getah bening
m.    Kelenjar tyroid : tidak teraba saat menelan
n.      Thoraks : bentuk normal dengan frekuensi pernapasan 32x/menit, vocal fremitus nantara kanan dan kiri sama
o.      Jantung : ictus cordis di ICS 5 linea medio clavicularis kiri, batas atas jantung di ICS 2-3, batas kanan jantung di linea sternalis kanan dan batas kiri jantung di linea medio clavicularis kiri. Selain itu, terdengar bising pada jantung sangat keras.
p.      Abdomen: bentuk datar dan warna sama dengan warna kulit lain. Umbilicus tidak menonjol dan tidak ditemukan nyeri tekan pada daerah abdomen
q.      Genitalia : tidak dilakukan pengkajian
r.        Lengan dan tungkai : tidak tampak edema ataupun masa. Rentan geras terbatas karena pasien terpsang infus, NGT, dan kateter
s.       Columna vertebratis : bentuk datar dan tidak ada nyeri tekan

4.      Pemeriksaan penunjang
a.       EKG
b.      Darah lengkap (DL)
Hematologi lengkap
Hasil (18/8/15;07:53)
Hasil(18/8/15; 13:45)
Nilai rujukan
Jumlah leokosit (WBC)
2.3 x 103 /µL
3.2 x 103 /µL
4-12 ribu /mm3
Jumlah eritrosit (RBC)
1.47 x 106 /µL
0.88 x 108 /µL
L: 4.5-6 , P: 4-5.5 /µL
Hemoglobin (HBG)
3.49 /dL
1.5 g/dL
L :14-18, P :12-16
Hematokrit (HCT)
11.7 %
6.2 %
L: 40-48%, P: 37-43%
Trombosit (PCT)
76 x 103 /µL
123 x 103 /µL
150-450 ribu/mm3

c.       Elektrolit
·         Kalium    : 3.21 mmol/l   (normal: 3.48-5.50)
·         Natrium  : 140.8 mmol/l (normal: 135-145)
·         Klorida   : 115.2 mmol/l (normal: 66-106)
d.      CTBT
·         Masa perdarahan (BT)    : < 3 menit
·         Masa pembekuan (CT)   : < 15 menit
e.       Pemeriksaan faal hati
·         Ureum                : 23.9 mg/dL
·         Kreatin serum     : 0.8 mg/dL
f.       Urin lengkap (UL)
g.       Gula darah sewaktu (GDS) : 145 mg/dL

5.      Terapi/tindakan yang dilakukan
a.       Pemasangan oksigen
b.      Pemasangan Infus
c.       Pemasangan kateter

d.      Pemberian transfusi darah

0 komentar:

Posting Komentar